Kamis, 30 Juli 2015

Rumah Sakit Malas

Harus kita akui rasa malas terkadang muncul di dalam diri kita. Malas belajar, malas melakukan sesuatu dan hanya ingin membuang waktu. Itu manusiawi, ketika seseorang melakukan rutinitas yang diulang terus menerus membuat pikiran menjadi jenuh namun kemalasan menjadi penyakit jika dipelihara terus menerus.

Jika kita malas berarti kita kurang menghargai waktu. Sungguh rugi kita bila membiarkan waktu terbuang sia sia. setiap menit yang bisa kita gunakan untuk membaca dan menulis amatlah rugi jika hanya digunakan untuk melamun, tidak produktif bahkan melakukan perbuatan dosa. Jika merasa malas yang terus berkelanjutan, hubungi aja rumah sakit malas.


Apa itu rumah sakit malas? Ini dia videonya semoga membantu :D


Video diambil dari youtube link : https://www.youtube.com/watch?v=lWK-UpIo1t8

Terinspirasi dari novel ranah 3 warna, novel kedua dari trilogi negeri 5 menara

Selasa, 28 Juli 2015

Menebar manfaat bersama 80 kesatria terpilih

#Latepost




Tak terasa semester 4 sudah berlalu, sebentar lagi aku akan naik tingkat menjadi ‘mahasiswa tingkat 3’. Sampai sekarang aku masih belum sebenar-benarnya merasa pantas menjadi seorang mahasiswa. Bayangan mahasiswa ideal seperti kontribusi, pengabdian, islami dan prestatif sama sekali belum tergores di dalam diriku. Hal ini sempat membuatku ragu akankah aku akan menjadi seorang yang sama seperti ketika awal masuk kuliah dulu (yang berarti aku tidak mengalami perubahan alias gagal) atau sebaliknya, aku akan menjadi orang yang lebih baik.



"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain."
( HR. Bukhari )

Bermanfaat bagi orang lain, itulah salah satu tolok ukur seseorang yang dikatakan baik. Setidaknya kini aku mengerti, untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya paling tidak aku harus memberi manfaat kepada orang lain.

Namun aku ragu, apakah yang akan aku berikan? Akankah aku menularkan pengalaman hidupku? Tidak, penglamanku sangatlah minim. Kisah hidupku mungkin jauh dari kata inspiratif jika dibandingkan teman teman kuliahku. Lalu apa lagi yang bisa aku berikan? Prestasi? Hampir tidak ada capaian yang berarti selama aku sekolah. Apa lagi yang bisa aku berikan? Tidak ada? Apakah aku se tidak berguna seperti itu? Apakah masa lalu telak mematikanku untuk menjadi orang bermanfaat? Apakah sudah tidak bisa diubah? Aku tidak tahu.

Rasa itu muncul di awal semester  lalu, rasa ingin memberi, rasa ingin menjadi setitik bagian di kehidupan orang lain. Semakin hari semakin kuat, menggebu-gebu di dalam hati yang diselimuti oleh semangat muda. Namun terkadang teringat bahwa aku tidak punya apa apa yang bisa aku berikan. Ibarat orang miskin yang bertemu dengan nenek tua tunanetra dan tunawisma, apakah yang akan orang miskin berikan? Apakah benar benar tidak bisa sama sekali?

“Insya Allah bisa”

Meskipun aku ‘tidak’ punya apa-apa, aku yakin bisa. Aku yakin pasti pernah ada orang yang melakukannya walaupun aku tak tahu. Meski aku tidak memiliki ‘modal’ masa lalu, aku harus berubah, aku harus menemukan momen bersejarah didalam hidupku, momen dimana aku berubah menjadi seseorang yang lebih baik

“jangan pernah menilai orang dari masa lalunya, karena kita tidak tahu bagaimana masa depannya”

Aku sadar bahwa aku punya msa depan. Masa depanku masih suci, aku masih punya kesempatan untuk berubah. Learn from the past, Life in the present, Believe in future.

Di penghujung semester 4, ada suatu lowongan kepanitiaan PPSMB di kampus. Banyak lowongan sie yang dibuka. Tahun lalu aku sudah ikut kepanitiaan ini dan mengambil sie properti, namun aku merasa bahwa aku perlu mengambil sie yang lebih strategis untuk melaksanakan misi besarku yaitu menebar manfaat kepada orang lain. Dengan tekad dan komitmen menjulang aku mengambil sie kepemanduan.

Kepemanduan – Sie favorit di setiap kepanitaan PPSMB, memiliki kuota paling banyak, paling dekat dengan adik adik mahasiswa baru. Sudah bukan rahasia lagi bahwa orang yang diterima di sie ini merupakan para mahasiswa terbaik di fakultas teknik, orang orang terpilih yang bisa dijadikan tauladan bagi adik adik nantinya. Di dalam hati aku ingin sekali menjadi seorang pemandu, meskipun saat ini aku masih menuju syarat tersebut. Aku daftar dengan memilih sie pemandu di pilihan pertama dan keduaku, aku maksimalkan sesi wawancara dan Alhamdulillah aku diterima. Kini benar benar datang kesempatan besar untuk menebar kebaikan. Aku janji tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, aku tidak akan mengecewakan amanah yang telah diberikan padaku


Dua minggu sebelum UAS diadakan gathering seluruh pemandu. Total ada 80 orang pemandu yang diterima. Disana aku bertemu orang orang hebat yang memiliki track record luar biasa inspiratif. Ada perasaan minder waktu pertama bertemu, wajar jika aku merasa bahwa aku paling rendah diantara mereka. Namun aku tak lantas rendah diri, aku yakin aku memiliki kualitas sebagai seorang pemandu, aku yakin koorku percaya padaku dan aku bisa mengemban amanah ini untuk tujuan mulia ‘memberi manfaat kepada orang lain’.

Aku tak menyangka untuk menjadi seorang pemandu yang bisa memimpin adik-adik kelak memerlukan persiapan yang benar benar matang. Berbagai training kepemanduan dan simulasi kepemanduan telah aku ikuti, bahkan setelah lebaran nanti juga masih dilanjutkan.


Semangat Perubahan :D