#Latepost
Tak terasa
semester 4 sudah berlalu, sebentar lagi aku akan naik tingkat menjadi
‘mahasiswa tingkat 3’. Sampai sekarang aku masih belum sebenar-benarnya merasa
pantas menjadi seorang mahasiswa. Bayangan mahasiswa ideal seperti kontribusi, pengabdian, islami dan prestatif sama sekali belum tergores di dalam diriku. Hal
ini sempat membuatku ragu akankah aku akan menjadi seorang yang sama seperti
ketika awal masuk kuliah dulu (yang berarti aku tidak mengalami perubahan alias gagal) atau
sebaliknya, aku akan menjadi orang yang lebih baik.
"Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain."
( HR. Bukhari )
Bermanfaat
bagi orang lain, itulah salah satu tolok ukur seseorang yang dikatakan baik.
Setidaknya kini aku mengerti, untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya paling
tidak aku harus memberi manfaat kepada orang lain.
Namun aku ragu, apakah yang akan aku berikan?
Akankah aku menularkan pengalaman hidupku? Tidak, penglamanku sangatlah minim.
Kisah hidupku mungkin jauh dari kata inspiratif jika dibandingkan teman teman
kuliahku. Lalu apa lagi yang bisa aku berikan? Prestasi? Hampir tidak ada
capaian yang berarti selama aku sekolah. Apa lagi yang bisa aku berikan? Tidak
ada? Apakah aku se tidak berguna seperti itu? Apakah masa lalu telak
mematikanku untuk menjadi orang bermanfaat? Apakah sudah tidak bisa diubah? Aku
tidak tahu.
Rasa itu
muncul di awal semester lalu, rasa ingin
memberi, rasa ingin menjadi setitik bagian di kehidupan orang lain. Semakin
hari semakin kuat, menggebu-gebu di dalam hati yang diselimuti oleh semangat
muda. Namun terkadang teringat bahwa aku tidak punya apa apa yang bisa aku
berikan. Ibarat orang miskin yang bertemu dengan nenek tua tunanetra dan
tunawisma, apakah yang akan orang miskin berikan? Apakah benar benar tidak bisa
sama sekali?
“Insya
Allah bisa”
Meskipun
aku ‘tidak’ punya apa-apa, aku yakin bisa. Aku yakin pasti pernah ada orang
yang melakukannya walaupun aku tak tahu. Meski aku tidak memiliki ‘modal’ masa
lalu, aku harus berubah, aku harus menemukan momen bersejarah didalam hidupku,
momen dimana aku berubah menjadi seseorang yang lebih baik
“jangan
pernah menilai orang dari masa lalunya, karena kita tidak tahu bagaimana masa
depannya”
Aku sadar
bahwa aku punya msa depan. Masa depanku masih suci, aku masih punya kesempatan
untuk berubah. Learn from the past, Life
in the present, Believe in future.
Di
penghujung semester 4, ada suatu lowongan kepanitiaan PPSMB di kampus. Banyak
lowongan sie yang dibuka. Tahun lalu aku sudah ikut kepanitiaan ini dan
mengambil sie properti, namun aku merasa bahwa aku perlu mengambil sie yang
lebih strategis untuk melaksanakan misi besarku yaitu menebar manfaat kepada
orang lain. Dengan tekad dan komitmen menjulang aku mengambil sie kepemanduan.

Kepemanduan
– Sie favorit di setiap kepanitaan PPSMB, memiliki kuota paling banyak, paling
dekat dengan adik adik mahasiswa baru. Sudah bukan rahasia lagi bahwa orang
yang diterima di sie ini merupakan para mahasiswa terbaik di fakultas teknik,
orang orang terpilih yang bisa dijadikan tauladan bagi adik adik nantinya. Di
dalam hati aku ingin sekali menjadi seorang pemandu, meskipun saat ini aku
masih menuju syarat tersebut. Aku daftar dengan memilih sie pemandu di pilihan
pertama dan keduaku, aku maksimalkan sesi wawancara dan Alhamdulillah aku
diterima. Kini benar benar datang kesempatan besar untuk menebar kebaikan. Aku
janji tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, aku tidak akan mengecewakan amanah
yang telah diberikan padaku
Dua minggu
sebelum UAS diadakan gathering seluruh pemandu. Total ada 80 orang pemandu yang
diterima. Disana aku bertemu orang orang hebat yang memiliki track record luar
biasa inspiratif. Ada perasaan minder waktu pertama bertemu, wajar jika aku
merasa bahwa aku paling rendah diantara mereka. Namun aku tak lantas rendah
diri, aku yakin aku memiliki kualitas sebagai seorang pemandu, aku yakin koorku
percaya padaku dan aku bisa mengemban amanah ini untuk tujuan mulia ‘memberi
manfaat kepada orang lain’.
Aku tak
menyangka untuk menjadi seorang pemandu yang bisa memimpin adik-adik kelak
memerlukan persiapan yang benar benar matang. Berbagai training kepemanduan dan
simulasi kepemanduan telah aku ikuti, bahkan setelah lebaran nanti juga masih
dilanjutkan.
Semangat
Perubahan :D