Selasa, 15 Desember 2015

Upaya Mahasiswa Teknik Kelistrikan dalam Membangun Ketahanan Nasional

            

         Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dari tahun ke tahun selalu memiliki problematika yang beragam. Salah satu problematika yang lawas yang hingga kini masih kondang ialah pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. Dari data Sensus tahun 2010 lalu, pertumbuhan penduduk di Indonesaia rata-rata mencapai 1,49 persen per tahunnya. Idealnya, pertumbuhan penduduk harus diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi. Bahkan di negara maju, pertumbuhan ekonominya lebih tinggi daripada pertumbuhan penduduk.

Pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk suatu negara haruslah sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan energi listriknya. Di Indonesia khususnya, berbagai masalah kelistrikan timbul akibat kebutuhan energi listrik yang meningkat lebih pesat dibandingkan kemampuan PLN untuk memenuhi pasokan listrik yang dibutuhkan. Akibatnya, terjadi pemadaman bergilir dimana-mana dan masih terdapat beberapa daerah di Indonesia yang belum mendapatkan kesempatan untuk dialiri listrik.
Tingkat kebutuhan listrik masyarakat Indonesia sangat dibatasi oleh kemampuan PLN dalam membangkitkan energi listrik. Tercatat bahwa kebutuhan listrik perkapita di Indonesia hanya sekitar 0,8 MWh. Konsumsi listrik tersebut merupakan yang terendah dibandingkan negara negara ASEAN lainnya, misalnya Malaysia sudah mencapai 4,4 MWh, Thailand mencapai 2,3 MWh apalagi Singapura yang sekarang mencapai 8,1 MWh per tahunnya. 
Pemerintah sadar bahwa listrik perkapita yang kecil mengakibatkan tingkat produktivitas masyarakat terbatas. Berbagai program penambahan kapasitas listrik sudah mulai dilaksanakan, salah satunya yaitu yang kita kenal dengan proyek 35.000 Mega Watt. Presiden Jokowi menjanjikan proyek yang dimulai pada tahun 2015 ini akan tuntas pada tahun terakhir masa pemerintahannya, yaitu tahun 2019.
Penambahan kapasitas listrik melalui proyek 35.000 Mega Watt ini setidaknya menjadi jawaban yang cukup melegakan masyarakat wilayah Indonesia timur khususnya, yang hingga saat ini, masih banyak wilayah di Indonesia belum teraliri listrik. Selain kurangnya pembangkit yang memadahi, permasalahan lain yang sangat mempengaruhi yaitu subsidi yang terus membengkak. Tingginya harga produksi listrik yang tidak diimbangi dengan harga jual ke konsumen merupakan penyebab utamanya.  Biaya produksi membengkak dikarenakan sebagian besar energi listrik dibangkitkan melalui pembangkit yang rata-rata mengkonsumsi bahan bakar minyak (BBM), dimana dari minggu ke minggu harga minyak per barrel nya semakin mahal mengikuti fluktuasi kurs mata uang.
Rendahnya harga jual listrik ke konsumen hanya dirasakan oleh masyarakat yang berdomisili di pulau jawa saja, sedangkan dampak buruknya justru dirasakan oleh masyarakat luar jawa yang mayoritas menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel yang mengkonsumsi solar sebagai bahan bakar. Bayangkan saja, di pulau rata-rata biaya untuk golongan residensial hanya 610 rupiah per KWh nya, sedngkan di Kalimantan mencapai 3100 rupiah per KWh nya. Di sisi lain, yang lebih memprihatinkan lagi yaitu banyak konsumen yang tidak layak mendapatkan subsidi yang sejatinya mereka mampu membayar lebih mahal. Tidak bisa dipungkiri jika hal ini seakan memunculkan ketidakadilan antara masyarakat luar jawa dengan masyarakat pulau jawa. Namun upaya yang sudah dilakukan pemerintah hingga saat ini cukup realistis dengan hanya membangun PLTD di kebanyakan daerah luar jawa dikarenakan kebutuhan daya di daerah tersebut memang tergolong kecil.
Masalah khas dari sistem ketenagalistrikan adalah tidak adanya penyimpan energi listrik yang handal dan efisien. Akibatnya, energi listrik mau tidak mau harus dibangkitkan pada saat diperlukan. Semua pembangkit, seluruh saluran transmisi dan saluran distribusi harus dibangun dengan kapasitas sama dengan beban maksimum sistem ditambah dengan nilai batas aman tertentu. Padahal, beban maksimum (waktu beban puncak) hanya terjadi selama beberapa jam setiap harinya. Akibatnya, lebih dari setengah pembangkit dan saluran transmisi yang dibangun dengan biaya sangat mahal harus menganggur setiap harinya.
Kompleksitas permasalahan listrik nasional menuntut adanya solusi nyata yang segera didapatkan paling tidak untuk jangka waktu yang pendek. Tidak hanya dari pemerintah saja, mahasiswa sebagai tokoh idealis dalam pembangunan bangsa memiliki hak untuk menawarkan solusi bagi kemajuan bangsa, khususnya mahasiswa program studi kelistrikan. Memang sulit untuk berkontribusi langsung membantu Proyek 35.000 Mega Watt yang dilaksanakan pemerintah, namun sebagai mahasiswa yang memiliki beragam pemikiran dan semangat yang membara tentu memiliki segudang cara untuk berkontribusi dalam kemajuan bangsa.
Upaya yang dapat dilakukan salah satunya ialah membantu gerakan penghematan listrik yang diprakarsai oleh pemerintah. Sebagai mahasiswa kita dapat membuat komunitas ataupun gerakan yang bergerak dalam bidang penghematan energi, seperti di fakultas Teknik UGM contohnya terdapat gerakan #TogetherWeSaveEnergy yang dibawahi oleh lembaga BEM Fakultas Teknik. Banyak hal yang bisa kita lakukan diantaranya ialah mengadakan sosialisasi penghematan energi bagi masyarakat awam yang bertujuan untuk menanamkan kepada mereka tentang urgensi penghematan listrik bagi ketahanan Indonesia kedepannya.
Sebagai mahasiswa tentunya kita bebas berpendapat, bebas mengkritisi keadaan yang sedang dialami oleh negara kita saat ini. Wadah yang tepat untuk mencurahkan hasil pemikiran kita salah satunya ialah melalui diskusi maupun kajian strategis. Jujur menurut saya pribadi, negara kita kurang berpihak pada isu penghematan. Harga listrik yang murah karena subsidi menyebabkan konsumen merasa tidak perlu berhemat. Seharusnya ada regulasi yang mendorong konsumen untuk melakukan penghematan dan yang memaksa hanya peralatan yang hemat energi yang bisa dijual di negara ini.
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta BUMN harus bisa menjadi contoh dalam gerakan hemat energi ini. Yang perlu kita benahi bersama ialah meyakinkan pada masyarakat bahwa penghematan bukan untuk mengurangi produktivitas dan kenyamanan. Penghematan bisa dilakukan tanpa biaya. Jika penghematan dilakukan, saya pribadi yakin bahwa negara ini tidak perlu membangun pembangkit dan saluran transmisi baru sebanyak yang direncanakan saat ini.
Saat ini, pemerintah berusaha membangun banyak pembangkit listrik yang sebagian besar menggunakan bahan bakar batu bara. Namun perlu kita ingat bahwa tidak semua daerah mempunyai batu bara. Kebutuhan akan batu bara yang harus didatangkan dari daerah lain atau bahkan dari negara lain. Jika seperti itu nantinya kita akan selalu bergantung pada  kita telah membuat beberapa daerah tidak bisa mandiri energinya.
Seharusnya, setiap daerah di rancang untuk mandiri energi. Setiap daerah harus mempunyai pembangkit yang mampu memenuhi daerahnya sendiri. Disini peran mahasiswa dan aktivis gerakan peduli energi Indonesia sangat besar. Jika pemerintah daerah berani mengambil keputusan untuk memaksimalkan potensi alam di daerah tersebut untuk mendukung program mandiri listrik, tak sedikit pihak yang tertarik untuk mendukung program tersebut salah satunya ialah para mahasiswa teknik kelistrikan. Melalui program Kuliah Kerja Nyata misalnya, kita bisa berkontribusi dengan mengangkat tema energi terbarukan sebagai program utama. Memajukan daerah daerah terpencil dengan mendirikan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) untuk melistriki daerah tersebut merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa teknik kelistrikan terhadap ketahanan nasional bangsa.
Langkah pertama yang memungkinkan untuk segera dilakukan ialah meyakinkan pemerintah untuk mendorong penggunaan sumber energi yang tersedia lokal di setiap daerah karena setiap daerah mempunyai potensi yang berbeda-beda. Sumber energi dari luar daerah harus bersifat suplemen, bukan utama. Pada saat ini, subsidi sangat besar karena setiap daerah dipaksa menggunakan pembangkit yang bahan bakarnya tidak terdapat di daerah tersebut.
Langkah selanjutnya yaitu mendorong penghematan energi melalui insentif dan peraturan yang lebih nyata. Jadi semacam memberikan reward bagi masyarakat yang telah mendukung penghematan energi listrik. Hal ini juga bisa dimulai dengan penghematan di kantor-kantor pemerintah, BUMN, dan tempat-tempat umum.
Langkah yang terakhir ialah eksekusi program. Pemerintah daerah yang membutuhkan bantuan pihak mahasiswa dapat meminta bantuan kepada lembaga pengabdian masyarakat masing masing universitas baru setelah itu para mahasiswa diterjunkan. Dengan semangat membara dan jiwa pengabdian yang dimiliki seorang mahasiswa, kebutuhan listrik di daerah perlahan akan semakin tercukupi. Dimana ada potensi, akan selalu hasilnya entah itu PLTMH maupun menggunakan tenaga surya.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro - Program KKN Mahsiswa di Sulbar

Yang paling penting agar keseluruhan langkah tersebut dapat terwujud ialah terciptanya sinergi antar pihak. Tanpa kerjasama yang bagus tentunya tidak akan dapat berjalan dengan maksimal. Begitu juga dengan masyarakat sendiri, sangat diperlukan sifat kerjasamanya dan kesadaran masing masing.
Apa yang seharusnya kita lakukan harus sejalan dengan nilai sifat ketahanan nasional yang terbentuk dari nilai-nilai yang terkandung dalam landasan asas-asas ketahanan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Drs. S Sumarno, Salah satu sifat ketahanan nasional yaitu mandiri. Ketahanan nasional bersifat percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri dengan keuletan dan ketangguhan yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah serta bertumpu pada identitas, integritas dan kepribadian bangsa.