Kejadian ini terjadi sekitar satu setengah bulan yang lalu sewaktu lembur
mengerjakan tugas tugas kuliah yang begitu tak masuk akal. Waktu itu kira kira
pada hari antara rabu malam-kamis pagi saat mengerjakan Tugas Abadi Teknik
Instalasi, aku mendengar suara yang asing. Suara tersebut terdengar gendang
telingaku mulai jam 12 saat hari berganti. Aku yang sedang asik bermain dengan
autocad malam itu mengacuhkan suara asing itu, namun seiring malam tergerus pagi
bunyi suara itu membuatku yakin bahwa suara itu berasal dari seseorang yang
sudah sepuh.
Kencangnya rintihan suara
tersebut membuatku ingin tahu. Sejenak aku melihat keluar jendela, ternyata
transmitter suara tersebut ialah simbah – simbah yang biasanya mengendap di
selasar warung sebelah kos, biasanya simbah itu minta minum teh pada ibukos.
Berdasarkan tebakanku beliau kira kira sudah berumur 70++ dan tidak punya tempat tinggal, karena ketika
kita berpapasan, beliau selalu memakai baju yang sama dengan membawa tongkat
kayu yang tingginya separuh tinggi badan beliau. Malam ini beliau berteriak
minta tolong, suaranya sangat pelan. Aku acuhkan suara itu mulanya, suara itu
semakin mengecil volumenya namun masih tetap terdengar jelas di telingaku.
Aku tak tega lama lama
membiarkan wanita paruh baya tersebut duduk sendirian di depan burjo pertigaan
yang gelap. Beliau buta, seluruh rambutnya berwarna putih bahkan rambut alis
matanya juga berwarna putih. Beliau tetap belum menyerah meminta tolong kepada
siapapun yang lewat meskipun jam telah menunjukkan pukul 01.30 pagi. Aku ingin
menolong beliau, tapi aku ragu nanti gimana kalau simbah tersebut memang benar
benar tak punya rumah dan meminta dicarikan tempat bermalam, malah jadi pusing
sebelum sempat menolongnya, tak mungkin juga beliau bermalam di kamar kosku.
Namun sebelum simbah tersebut tambah kedinginan, tanpa pikir panjang kau
beranikan diri untuk menemui beliau.
Aku mendatangi beliau, dan aku
bertanya :
“mbah arep teng
pundi” tanyaku dengan kosakata bahasa jawa kramaku yang amburadul
“kula badhe
wangsul ing ngomah mas” jawabnya
Ternyata dugaanku salah, simbah tersebut punya tempat tinggal. Lalu
kenapa beliau bisa ‘terdampar’ di depan burjo di tengah malam sendirian ini?
Aku langsung Tanya pada beliau. Beliau tidak terlalu paham dengan pertanyaanku
yang memakai bahasa Indonesia.
“lho njengan kok
isa teng mriki wengi – wengi mbah”
“kulo badhe teng
kamar mandi, ngikuti padhang padhang (lampu) ning malah nyasar nganti mriki
mas”
Aku salut terhadap simbah
tersebut karena beliau selalu menjawab pertanyaanku yang notabene menggunakan
bahasa campuran dan beliau selalu menjawabnya dengan bahasa jawa krama, bukan
seperti yang aku tulis disini.
“Asmane mbah
sinten mbah?”
“kulo Salinem”
“oh yuswa ne
mbah niku berapa nggih?”
Saat aku Tanya berapa umurnya beliau tidak tahu pasti berapa umurnya dan
kapan ia lahir, namun beliau bercerita kepadaku saat perjalanan menuju ke
rumahnya. Beliau bercerita dari waktu kecil beliau dibesarkan di daerah pogung
ini, dahulu belum ada gang pogung kidul semua masih rata daratan rumput dan hanya
beberapa rumah rumah warga. Selain itu wajah wajah pionir belanda juga masih
menghiasi daerah ini, beliau juga menceritakan bahwa bangunan yang sekarang
bernama RS Sardjito dulunya merupakan markas tentara belanda. Beliau menikah
sebelum Indonesia merdeka, jadi bisa ditaksir umur beliau hampir satu abad.
Aku tak tahu rumah beliau yang mana, sewaktu aku tanya yang mana rumah
beliau pun beliau juga menjawab dengan ambigu. “gang e memet terus belok
sithik” katanya, memet siapa yang dimaksud? Tak lama kemudian datang seseorang
dari arah pos kamling yang menunjukkan arahnya, namun tak ikut bersama kami.
Di sisa perjalanan menuju ke rumah simbah aku bertanya lagi “mbah mboten
kagungan anak?” beliau membalas bahwa beliau memiliki dua anak, namun sudah
meninggal lama sejak tahun 80an. Suami beliau juga sudah meninggal pada dekade
yang sama. Beliau sudah hidup sebatangkara kurang lebih hampir tiga dekade.
Memprihatinkan sekali kehidupan senja nenek tersebut, beliau hanya mengandalkan
belas kasihan dari tetangga sekitar. Kata beliau biasanya ada orang yang
memberinya sarapan nasi kuning ataupun bubur hangat, namun tak selalu orang itu
hadir biasanya seminggu dua atau tiga kali karena orang tersebut juga sibuk
bekerja. Selain dari tetangga sekitar, beliau mendapat suplai uang dari
pemerintah, aku lupa pastinya dari Kelurahan atau yang lain namun nominalnya
sekitar 600 ribu rupiah per bulan.
Akhirnya sekitar pukul setengah tiga pagi sampai juga dirumahnya, aku
buka pintu rumahnya. Sangat senang sekali dapat mengantar nenek ini pulang. Tak
lama lama aku disana karena esok pagi aku ada jadwal kuliah, aku langsung
berpamitan sesaat setelah beliau masuk rumah.
Banyak manfaat yang kudapat dari hal hal yang tak terduga ini. Tak disangka malam ini bisa melakukan hal yang belum pernah aku lakukan dibanding melakukan rutinitas membosankan pada malam malam sebelumnya. Meski tergolong hal kecil namun aku senang sekali mendapat pengalaman berharga, bahwa kita tidak boleh melewatkan ‘event’ kebaikan apapun bentuknya. Kita sebagai makhluk sosial pasti mengerti bahwa menolong sesama ialah kewajiban kita, khususnya kita anak anak muda. Semoga kedepan aku berharap dapat memberi manfaat kepada orang lain, mulai dari hal kecil nan sepele. Dan yang terakhir semoga saya juga dapat mengantarkan calon istri ke rumahnya ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar