Sabtu, 10 Januari 2015

Mbah Salinem

Kejadian ini terjadi sekitar satu setengah bulan yang lalu sewaktu lembur mengerjakan tugas tugas kuliah yang begitu tak masuk akal. Waktu itu kira kira pada hari antara rabu malam-kamis pagi saat mengerjakan Tugas Abadi Teknik Instalasi, aku mendengar suara yang asing. Suara tersebut terdengar gendang telingaku mulai jam 12 saat hari berganti. Aku yang sedang asik bermain dengan autocad malam itu mengacuhkan suara asing itu, namun seiring malam tergerus pagi bunyi suara itu membuatku yakin bahwa suara itu berasal dari seseorang yang sudah sepuh.
      Kencangnya rintihan suara tersebut membuatku ingin tahu. Sejenak aku melihat keluar jendela, ternyata transmitter suara tersebut ialah simbah – simbah yang biasanya mengendap di selasar warung sebelah kos, biasanya simbah itu minta minum teh pada ibukos. Berdasarkan tebakanku beliau kira kira sudah berumur 70++  dan tidak punya tempat tinggal, karena ketika kita berpapasan, beliau selalu memakai baju yang sama dengan membawa tongkat kayu yang tingginya separuh tinggi badan beliau. Malam ini beliau berteriak minta tolong, suaranya sangat pelan. Aku acuhkan suara itu mulanya, suara itu semakin mengecil volumenya namun masih tetap terdengar jelas di telingaku.
          Aku tak tega lama lama membiarkan wanita paruh baya tersebut duduk sendirian di depan burjo pertigaan yang gelap. Beliau buta, seluruh rambutnya berwarna putih bahkan rambut alis matanya juga berwarna putih. Beliau tetap belum menyerah meminta tolong kepada siapapun yang lewat meskipun jam telah menunjukkan pukul 01.30 pagi. Aku ingin menolong beliau, tapi aku ragu nanti gimana kalau simbah tersebut memang benar benar tak punya rumah dan meminta dicarikan tempat bermalam, malah jadi pusing sebelum sempat menolongnya, tak mungkin juga beliau bermalam di kamar kosku. Namun sebelum simbah tersebut tambah kedinginan, tanpa pikir panjang kau beranikan diri untuk menemui beliau.
          Aku mendatangi beliau, dan aku bertanya :
“mbah arep teng pundi” tanyaku dengan kosakata bahasa jawa kramaku yang amburadul
“kula badhe wangsul ing ngomah mas” jawabnya
Ternyata dugaanku salah, simbah tersebut punya tempat tinggal. Lalu kenapa beliau bisa ‘terdampar’ di depan burjo di tengah malam sendirian ini? Aku langsung Tanya pada beliau. Beliau tidak terlalu paham dengan pertanyaanku yang memakai bahasa Indonesia.
“lho njengan kok isa teng mriki wengi – wengi mbah”
“kulo badhe teng kamar mandi, ngikuti padhang padhang (lampu) ning malah nyasar nganti mriki mas”
       Aku salut terhadap simbah tersebut karena beliau selalu menjawab pertanyaanku yang notabene menggunakan bahasa campuran dan beliau selalu menjawabnya dengan bahasa jawa krama, bukan seperti yang aku tulis disini.
“Asmane mbah sinten mbah?”
“kulo Salinem”
“oh yuswa ne mbah niku berapa nggih?”
Saat aku Tanya berapa umurnya beliau tidak tahu pasti berapa umurnya dan kapan ia lahir, namun beliau bercerita kepadaku saat perjalanan menuju ke rumahnya. Beliau bercerita dari waktu kecil beliau dibesarkan di daerah pogung ini, dahulu belum ada gang pogung kidul semua masih rata daratan rumput dan hanya beberapa rumah rumah warga. Selain itu wajah wajah pionir belanda juga masih menghiasi daerah ini, beliau juga menceritakan bahwa bangunan yang sekarang bernama RS Sardjito dulunya merupakan markas tentara belanda. Beliau menikah sebelum Indonesia merdeka, jadi bisa ditaksir umur beliau hampir satu abad.
Aku tak tahu rumah beliau yang mana, sewaktu aku tanya yang mana rumah beliau pun beliau juga menjawab dengan ambigu. “gang e memet terus belok sithik” katanya, memet siapa yang dimaksud? Tak lama kemudian datang seseorang dari arah pos kamling yang menunjukkan arahnya, namun tak ikut bersama kami.
Di sisa perjalanan menuju ke rumah simbah aku bertanya lagi “mbah mboten kagungan anak?” beliau membalas bahwa beliau memiliki dua anak, namun sudah meninggal lama sejak tahun 80an. Suami beliau juga sudah meninggal pada dekade yang sama. Beliau sudah hidup sebatangkara kurang lebih hampir tiga dekade. Memprihatinkan sekali kehidupan senja nenek tersebut, beliau hanya mengandalkan belas kasihan dari tetangga sekitar. Kata beliau biasanya ada orang yang memberinya sarapan nasi kuning ataupun bubur hangat, namun tak selalu orang itu hadir biasanya seminggu dua atau tiga kali karena orang tersebut juga sibuk bekerja. Selain dari tetangga sekitar, beliau mendapat suplai uang dari pemerintah, aku lupa pastinya dari Kelurahan atau yang lain namun nominalnya sekitar 600 ribu rupiah per bulan.
Akhirnya sekitar pukul setengah tiga pagi sampai juga dirumahnya, aku buka pintu rumahnya. Sangat senang sekali dapat mengantar nenek ini pulang. Tak lama lama aku disana karena esok pagi aku ada jadwal kuliah, aku langsung berpamitan sesaat setelah beliau masuk rumah.
Banyak manfaat yang kudapat dari hal hal yang tak terduga ini. Tak disangka malam ini bisa melakukan hal yang belum pernah aku lakukan dibanding melakukan rutinitas membosankan pada malam malam sebelumnya. Meski tergolong hal kecil namun aku senang sekali mendapat pengalaman berharga, bahwa kita tidak boleh melewatkan ‘event’ kebaikan apapun bentuknya. Kita sebagai makhluk sosial pasti mengerti bahwa menolong sesama ialah kewajiban kita, khususnya kita anak anak muda. Semoga kedepan aku berharap dapat memberi manfaat kepada orang lain, mulai dari hal kecil nan sepele. Dan yang terakhir semoga saya juga dapat mengantarkan calon istri ke rumahnya ~

Sabtu, 25 Oktober 2014

Satu tahun diriku

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat bagiku, rasanya aku baru saja lulus SMA beberapa bulan yang lalu. Tak terasa aku sudah memiliki adik angkatan baru, namun rasanya baru saja aku selesai mengikuti ospek. Tak terasa aku sudah mendapatkan indeks prestasiku yang kedua, rasanya kemarin aku masih berlatih menyesuaikan diri dengan kehidupan kuliah. Dan tak terasa sudah satu tahun aku meninggalkan rumah, meninggalkan Kota Semarang tercinta dan tentunya kedua orangtua tersayang, namun rasanya baru kemarin aku diantarkan ke Kota perantauanku ini.

Waktu berjalan begitu cepat, sekarang aku sedang memasuki tahun keduaku hidup di Yogyakarta. Tak terasa memang, dulu aku tak begitu betah dengan suasana kosan yang menurutku membosankan, sulit untuk mendapatkan sinyal dan sulit sekali untuk berhubungan lewat jejaring sosial. Setahun yang lalu aku mulai kehidupan baruku, ditempat yang benar benar baru, berkenalan dengan teman teman baru dari berbagai daerah. Mengherankan menurutku saat melihat teman – teman lainnya,  aku sedikit banyak selalu memperhatikan detil detil kecil orang berpakaian, mulai dari sepatu celana baju hingga gaya rambut mereka. Saat aku SMA rata rata gaya pakaian teman temanku sedikit banyak sama, yang cowok memakai baju agak jangkis dan juga celana gaul pensil, sedangkan yang cewek lebih parah lagi. Sering aku amati terutama cewek cewek yang tak berkerudung menggunakan baju yang sangat ketat bahkan ada yang bajunya kelihatan tipis sekali hampir transparan. Berbeda dengan teman teman sejurusanku, yang cowok memakai celana bahan yang klowor dan yang cewek tentunya gak kayak cewek SMA dulu lah. Mayoritas mereka menurutku ialah orang orang yang lugu. Meskipun beberapa ada yang terlihat nyleneh tapi pemikiran mereka benar benar berbeda dari penampilannya. Memang benar, waktu itu aku menyadari bahwa aku berada di universitas terbaik, mayoritas temanku ialah terbaik dari daerahnya masing masing.

                Aku ingat sekali setahun yang lalu aku masih terbawa atmosfer SMA dan euforia anak sekolah. Teringat awal awal memasuki masa kuliah, kebiasaan masa SMA masih melekat, hingga berimbas pada nilai UTS semester 1 ku yang benar benar hancur hahaha…. Nah baru setelah UTS ini kehidupan baruku sebagai mahasiswa benar benar dimulai. Aku mulai bisa mengatur waktu belajar, berorganisasi, dan juga bermain. Aku sedikit sedikit mulai bisa mengimbangi teman teman sejurusanku, yang notabene mereka semua memiliki latar belakang yang luar biasa dalam bidang fisika, robotic maupun programming dan pastinya kemampuan berfikir otak mereka seperti makhluk dari planet lain. Ada yang saat kuliah kerjaanya ketawa dan keliatannya ga terlalu serius eh tapi waktu nilai keluar tau tau dia dapet A. Ada yang ikut banyak banget organisasi, aktif dan eksis dimana mana dan nilainya juga bagus. Emang di UGM ini gak ada orang yang boleh diremehin, gak bisa di judge lewat kebiasaan maupun penampilannya saja, semuanya memiliki kehebatan yang tak terduga, memang benar kompetitif banget teknik elektro UGM ini.

                Tak terasa memang aku sudah menjalani setahun kehidupan yang mengasyikan bersama teman teman kuliah. Jujur semenjak kuliah banyak yang berubah dalam diriku. Kesamaan visi dan cita cita serta lingkungan yang produktif membuatku berubah ke jalan yang lebih baik. Aku mulai menjadi pribadi yang mudah bergaul. Dulu waktu sekolah soalnya aku agak pemalu, meskipun sekarang masih sisa sisa pemalu masih ada. Aku mulai berani dalam berpendapat, meskipun masih tertatih dalam mengutarakan dan lola dalam berfikir. Satu hal penting yang lingkungan ajarkan kepadaku ialah perbedaan. Berbeda waktu saat masih SMA dimana teman temanku memiliki dukungan dana dari orangtua mereka yang relatif mampu. Setidaknya banyak teman temanku saat ini yang lebih beruntung dari aku, namun jauh lebih banyak yang kurang beruntung daripadaku. Aku merasa beruntung sekali masih memiliki kedua orangtua yang sehat, kehidupan yang lebih dari cukup, fasilitas pendukung yang komplit. Berbeda dengan beberapa temanku yang berjuang menyeimbangkan neraca pengeluaran dan pemasukan. Terkadang hal tersebut selalu membuatku sadar bahwa masih ada orang yang membutuhkan bantuan kita, mereka juga sama sepertiku, masih menempuh kuliah dan seumuran. Satu hal yang sangat aku kagumi dari mereka ialah semangat yang tak pernah habis, tak pernah menyerah dengan kehidupan. Aku banyak belajar dari mereka tentang bagaimana memiliki mental baja, bagaimana memanfaatkan uang dengan bijak (hal paling sulit aku lakukan semenjak SMA).

                Waktu benar benar berjalan cepat, meninggalkan siapa saja yang tak dapat berlari, membunuh siapa saja yang putus asa. Banyak pengalaman yang aku dapatkan selama setahun kebelakang, yang membuat diriku menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Banyak orang yang dapat dijadikan inspirasi, tidak selalu orang yang baru mendapatkan medali saja yang dapat dijadikan inspirasi, tetapi orang orang sederhana yang melakukan hal hal luar biasa jauh dari kesederhanaannya. Orang orang seperti itu dapat dijadikan inspirasi kita agar selalu ingat bahwa kita bukanlah apa apa, kita tak boleh menyerah pada keadaan, kita harus terus berjuang dalam keadaan apapun yang kita hadapi. Di tahun keduaku ini aku harap aku akan lebih maksimal dalam berkonstribusi bagi orang lain, melupakan kegagalan, berifikir positif dan tentunya menuliskan banyak hal hal baru pada teman teman pembaca :D


Beberapa hari lagi aku akan meempuh UTS ketigaku a.k.a UTS di tahun keduaku. Dengan pengalaman yang aku dapat setahun lalu, aku tak ingin mengulangi kegagalanku seperti waktu UTS pertama. Doakan yaa..

Kamis, 20 Maret 2014

Arti Seorang Cendekia

Apa sih cendekia itu? apakah cendekia itu adalah orang yang bisa dikatakan sangat cerdas? apakah cendekia itu ialah orang orang berkacamata? apakah cendekia itu adalah seseorang yang hari harinya dihabiskan untuk belajar dan belajar?

Ya.. pernyataan ketiga mungkin ada benarnya mengenai arti seorang cendekia. sebagai seorang cendekia hendaknya kita harus terus belajar, bukan hanya belajar untuk akademik kuliah saja, namun belajar untuk menjadi lebih baik dari yang kemarin. Kita sebagai manusia pastilah ingin menjadi manusia yang baik, memiliki hasrat untuk menjadi lebih baik dari orang lain dan hal tersebut adalah wajar, karena itu memang manusiawi. Begitu pula dengan seorang cendekia, seseorang yang 'layak' dikatakan seorang cendekia ialah seseorang yang memiliki tekad dan hasrat untuk belajar belajar dan terus belajar.

Menurut kamus besar bahasa indonesia cendekia memiliki arti seseorang yang cepat mengerti situasi dan pandai mencari jalan keluar (pandai menggunakan kesempatan) atau bisa dikatakan sebagai orang yang cerdik. Ya cerdik, cerdik dalam pandangan yang luas. Cendekia bisa dikatakan sebagai seseorang yang cerdik, pandai menggunakan kesempatan. kesempatan dalam lingkup ini sangat luas dan aku pikir sangat banyak kesempatan yang datang menghampiri kita, namun kadang kita tidak menyadarinya bahkan sering melewatkan kesempatan yang berharga itu dan menyianyiakanya secara cuma cuma.

Dapat kita ambil hal yang sering kita sia siakan adalah waktu. Cukup dimulai dari pertanyaan simpel dan mainstream "Jam berapa kau bangun?". Ya aku percaya bahwa anda, orang yang membaca blog ini adalah orang yang rajin bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Aku percaya karena kalian adalah seorang cendekia, jadi teruskan saja kebiasaan baik ini karena ini adalah langkah yang tepat untuk menjadi seorang cendikia yang sesungguhnya.

Contoh lainnya adalah waktu yang kita gunakan belajar, kapan sih waktu yang tepat untuk belajar? berapa lama sih kita belajar? apakah waktu belajar hanya malam hari sebelum kuliah? atau bahkan hanya saat kuliah? . Sebenarnya kita bisa belajar kapanpun dan dimanapun. Masalah kita semua, terutama diriku sendiri adalah merasa kurang jika 1 hari itu 24 jam. Ya.. nglembur laporan hingga larut malam, dan banyak bermain main dalam kegiatan organisasi. Jika kau adalah seorang cendekia, maka kau pasti sudah punya rencana untuk memanfaatkan waktu hingga detail. Makan di burjo sambil membaca buku ataupun menunggu dosen sambil menulis laporan.

Hal hal out of the box tersebut mungkin jarang kita lakukan, termasuk jarang aku lakukan sendiri. Ada baiknya kita menghargai waktu. Bagi anda yang sudah cerdik dalam mengatur waktu kuliah dan organisasi, tidak ada salahnya juga untuk menghargai sedikit demi sedikit waktu yang bergulir, karena waktu terus bergulir sedangkan seorang cendekia haruslah berlari.

Ya siapa yang tak ingin menjadi seorang cendekia? kalau aku sangat ingin jadi seorang cendekia, seorang yang ingin menjadi lebih baik dari yang kemarin. Aku memulai belajar untuk menjadi orang yang lebih baik semenjak berada di Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ini. Aku mulai untuk mencari tempat dimana aku bisa berkarya, tempat dimana bisa menjadikan diriku menjadi seseorang yang lebih produktif. Akhirnya aku menemukan tempat yang bernama Cendekia Teknika.

Kesamaan tujuan yang sama sama ingin dicapai membuatku kepincut untuk bergabung ke dalam Badan Semi Otonom (BSO) Fakultas teknik tersebut. Cendekia Teknika juga merupakan Kelompok Studi Fakultas (KSF) yang berbasis di fakultas teknik. Cendekia Teknika atau (CT) memiliki motto "Create Future Engineer", motto tersebut sama seperti tujuanku untuk menjadi Future Engineer, engineer yang dapat berkonstribusi untuk bangsa di masa yang akan datang.

CT sebenarnya adalah BSO yang paling muda yang berada di fakultas teknik ini. Ia lahir ditahun 2012. Sebelumnya ia merupakan lembaga khusus di bawah BSO Keluarga Muslim Teknik (KMT). Dengan berbagai pertimbangan akhirnya CT memisahkan diri dengan KMT dan resmi berdiri sebagai BSO sendiri.

Lewat CT ini, saya diperlihatkan banyak orang orang hebat, banyak orang orang yang totalitas dalam berkonstribusi, yang membuat diriku secara tidak langsung ingin mengikuti jejak mereka semua, dan semoga petualanganku di CT ini memiliki antiklimaks yang bermanfaat bagi semua orang.